Mengingat Kembali Kacamata Politik dan Sejarah di Indonesia

 

Judul Buku                : Membaca Sejarah Nusantara  : 25 Kolom Sejarah Gus Dur

Pengarang                  : Abdurrahman Wahid

Pengantar                   : KH. A. Mustofa Bisri

Penerbit                      : LKiS Yogyakarta

ISBN                            : 979-25-5307-x

Kota terbit                  : Yogyakarta

Tahun terbit               : 2010

Cetakan                       : Pertama

Jumlah Halaman      : XX + 134 halaman

Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI keempat yang lahir di Jombang, Jawa Timur pada  4 Agustus 1940 ini merupakan salah satu penulis buku-buku berbau demokratis dan keagamaan yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Dialog Peradaban : untuk Toleransi dan Perdamaian, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan, dan buku Membaca Sejarah Nusantara  : 25 Kolom Sejarah Gus Dur. Gus Dur adalah salah seorang yang memiliki kemampuan dan kelebihan, sekaligus sikap i’timad ‘alan-nafs. Maka ketika mendapat kedudukan sebagai presiden, beliau tidak tampak kegirangan, dan ketika dipaksa lengser pun beliau tidak tergoncangkan oleh apa pun. Tidak sampai tiga bulan setelah lengser, beliau meneruskan kebiasaannya berkeliling dan bersilaturahmi terhadap sesama. Selain itu, kolom-kolomnya kembali muncul begitu deras dalam jangka waktu enam belas bulan.

Penulis mencoba menyampaikan pemikirannya mengenai sejarah panjang pertumbuhan kita sebagai bangsa yang melampaui konsep-konsep “nasionalisme” yang secara teoritis baru dikenal pada akhir abad ke-19. Tujuannya agar dimengerti untuk memerjuangkan demokrasi dengan pandangan nasionalismenya yang berbeda dengan pemimpin partai politik saat ini. Karena orang cenderung menunjukkan bahwa dirinyalah paling berhak menentukan  corak negara-bangsa ini seperti agama, etnis, dan ideologi.

Kumpulan kolom yang paling menarik adalah bagian pertama yakni Gus Dur melihat sejarah masa lalu, melalui kaca matanya yang jeli, kritis, dan unik. Beliau begitu terbuka terhadap berbagai versi tafsiran yang memang tidak bisa dihindari, misalnya, Walisongo dalam sejarah disebut sebagai para pemimpin dan da’i yang mengislamkan Tanah Jawa. Ada yang berpendapat bahwa Walisanga (“Sanga” berasal dari bahasa Jawa “Songo” yang berarti Sembilan ; “Tsanaa” berasal dari bahasa arab yang berarti pujian mulia.)

Dalam buku ini, di samping melakukan penafsiran, Gus Dur juga mengaitkan cerita-cerita sejarah lama dengan kehidupan masa kini; seperti mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan perkembangan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), yang mengaitkan pemerintah Mesir Kuno dengan kejadian di pemerintahan Jepang di bawah PM Kaizumi dan soal otonomi daerah; mengaitkan kisah Jaka Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Peristiwa sejarah pembelotan antara Raden Wijaya dan mertuanya, Raja Kertanegara dari Singosari adalah penganut paham Budha dan Hindhu. Setelah runtuhnya kerajaan Singosari, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit di Tarik (Krian) dengan bantuan Angkatan Laut China yang mengirimkan perahu-perahunya melalui sungai Brantas ke Tarik. Angkatan Laut China sepenuhnya diisi oleh orang muslim. Oleh karena itu, Gus Dur berspekulasi pertentangan Raden Wijaya dan mertuanya karena perbedaan agama.

Tokoh sejarah yang menarik salah satunya adalah Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Sebagai penguasa Jawa yang menegakkan sistem agraris, dapat dimengerti jika ia kemudian menghancurkan pusat-pusat kelautan (maritim kita), seperti Jepara, Tuban, dan Surabaya. Di sinilah terdapat jasa-jasa Sultan Agung, di samping dalam penerapan hukum Islam dan penyesuaiannya atas kalender Jawa terhadap kalender Islam yang merupakan sebuah warisan budaya yang sangat berharga bagi kita.

Buku ini tidak begitu tebal dan dikemas dengan sampul yang menarik. Keunggulan utama dari buku ini adalah cara pandang penulis mengingatkan kembali sejarah lama yang akan punah di kalangan masyarakat. Selain itu, Gus Dur berspekulasi bahwa gagasannya banyak orang yang kaget karena argumen yang dipaparkannya cukup kuat. Perpaduan gagasan antara keagamaan, sejarah, politik, dan budaya sangatlah unik, sehingga pembaca tidak bisa langsung menebak kelanjutannya.

Buku ini memiliki perkataan dan peristilahan yang sulit dipahami. Para remaja pun belum tentu bisa mencerna arti perkataan dalam isi buku tersebut dengan sempurna. Di sisi lain, penulis tidak menyajikan gambar di dalam isi buku, sehingga buku ini terasa monoton dan membosankan untuk dibaca. Selain itu, pada bagian isi buku, penulis berspekulasi bahwa sejarawan sebaiknya bisa membedakan antara sejarah dan mitos karena sejarawan belum bisa membedakan di antara keduanya.

Buku ini direkomendasikan untuk kalangan remaja, khususnya SMA/MA Sederajat agar dapat menghargai dan mencintai jasa para pahlawan dan mengingat kembali perjuangan yang telah diberikan kepada kita dalam negara Republik Indonesia. Selain itu, buku ini dapat digunakan untuk menambah wawasan/pengetahuan agar generasi muda tidak lupa akan  perjuangan yang telah terjadi.

 

Lilies Cahyanti. Lahir di Boyolali pada tanggal 17 Juni 2001. Alamat saya di Jebolan RT 04 RW 04, Randusari, Teras, Boyolali. Saya masih bersekolah di SMA N 3 Boyolali. Riwayat pendidikan saya mulai dari SDN Balangan, Teras, Boyolali, kemudian melanjutkan di SMP Negeri 1 Banyudono, Boyolali, lalu masuk dan bersekolah di SMA N 3 Boyolali. Motivasi saya mengikuti perlombaan ini adalah ingin mengembangkan bakat dan minat dalam menelaah hasil karya para penulis buku yang akan dituangkan dalam bentuk sebuah resensi.

 

JUARA HARAPAN III LOMBA RESENSI BUKU SEJARAH TINGKAT KABUPATEN YANG DISELENGGARAKAN OLEH DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons