Menguak Sisi Kelam di Balik Pesona Majapahit

Judul                        : Senjakala Majapahit

Sub Judul                : Menguak Sejarah dan Kebusukan  Politik Majapahit

Pengarang               : Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad

Penerbit                   : Araska

ISBN                         : 978-602-300-056-2

Kota Terbit              : Yogyakarta

Tahun Terbit           : 2014

Cetakan                    : Pertama

Jumlah Halaman   : 260 halaman

Krisna Bayu Adji, seorang pria kelahiran Kediri 17 April 1980. Kegemarannya membaca buku babad, dan aktif pula sebagai pengelana yang gemar melakukan pengamatan terhadap situs-situs sejarah mengantarkan dirinya menjadi seorang penulis yang ahli di bidangnya. Buku-bukunya yang telah terbit antara lain, Ensiklopedia Istri-Istri Raja jawa, Sejarah Singhasari & Kitab Para Datu, dan buku ini sendiri Senjakala Majapahit. Sri Wintala Acmad, pernah menempuh kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau menulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa. Tulisannya banyak dipublikasikan melalui koran, buku-buku antologi, dan essai.

Penulis mencoba mengajak pembaca untuk mengenal Kerajaan Majapahit lebih dalam  melalui sumber-sumber sejarah yang ada dan terpercaya. Tujuannya agar masyarakat tidak terjerumus pada doktrin yang salah mengenai sejarah Majapahit. Selain itu penulis juga ingin menyampaikan buruknya politik Kerajaan Majapahit dengan menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Majapahit atas dasar politik adu domba.

Majapahit merupakan salah satu kerajaan tersohor di tanah Jawa dan Nusantara. Puncak kejayaan Majapahit tidak terlepas dari peran Patih Amangkubhumi Gajah Mada (semasa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi) dan Hayam Wuruk. Pada saat itulah, Majapahit mampu menjadi pusat kekuasaan dari seluruh wilayah Nusantara.

Fakta inilah yang hingga sekarang terus menggaung di masyarakat. Mulai dari guru sejarah, cerita turun temurun, mereka mengatakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang berjaya menyatukan Nusantara melalui sumpah palapa. Hal inilah yang menjadikan Majapahit menjadi sebuah kerajaan yang diagungkan dalam sejarah.

Dalam buku ini, dikatakan bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan yang tidak luput dari segudang cela dan noda politisnya. Sungguh menarik menguak sejarah Majapahit sejak pemerintahan Hayam Wuruk hingga Girindrawardhana yang ternyata menyimpan segala noda di balik kejayaan Sumpah Palapa itu. Mulai dari politik nabok nyilih tangan, atau dalam bahasa Indonesia berarti melukai seseorang dengan menggunakan orang lain, hingga memanfaatkan pasukan Tartar, yaitu pasukan dari Negeri Cina untuk menggulingkan Kerajaan Singhasari. Sesudah cita-cita berhasil, pasukan Tartar kemudian diserang dan diusir dari Tanah Jawa.

Masa surut Majapahit diawali dengan terjadinya Perang Bubat. Perang Bubat terjadi akibat perselisihan antara Patih Amangkhubumi Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda. Kemudian disusul dengan peristiwa Perang Paregreg, perang saudara yang bertujuan untuk merebutkan kekuasaan yang dilakukan dalam tempo yang lama. Dan terjadinya kudeta, yakni daerah jajahan melakukan pemberontakan dan memutuskan untuk memisahkan diri dari Majapahit.

Keruntuhan Majapahit ditandai dengan kalahnya Majapahit dalam Perang Sudarma Wisuta, yaitu perang antara ayah melawan anak yang dilakukan Brawijaya melawan Raden Patah. Dalam buku ini dijelaskan bahwa perang antara Demak melawan Majapahit bukan perang antaragama (Islam versus Hindu), sebagaimana yang sering dibayangkan oleh banyak orang. Perang ini dilandasi kepentingan politik antara Sultan Trenggana versus Dyah Ranawijaya demi merebutkan kekuasaan atas pulau Jawa.

Buku ini disajikan dengan bahasa yang runtut, renyah, dan memikat. Hanya melalui buku ini kita dapat menikmati sebuah karya agung Kakawin Nagarakretagama yang digubah dengan bahasa memikat oleh Mpu Prapanca. Di setiap awal bab disertai pula prolog yang memudahkan pembaca untuk memahami inti bab tersebut. Keunggulan utama buku ini adalah fakta yang disajikan berasal dari berbagai sumber, sehingga kita bisa membedakan mana yang merupakan berita benar dan mana yang bukan.

Di sisi lain, buku ini tidak disertai ilustrasi yang mendukung, seperti dokumen prasasti dan candi pada zaman kerajaan, sehingga pembaca merasa kurang tertarik. Buku ini juga menggunakan kata-kata berupa gelar atau jabatan pada masa kerajaan yang tidak dijelaskan sebelumnya, sehingga pembaca mengalami kesulitan untuk memahaminya. Adanya salah ketik pada beberapa bagian juga menganggu kenyamanan pembaca dalam membaca buku ini.

Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini tetap layak dibaca, terutama bagi pelajar  dan masyarakat luas untuk dijadikan referensi, agar dalam mengenal sejarah Majapahit tidak mudah dipengaruhi oleh berita bohong dari  sumber yang tidak dipercaya. Buku ini juga menyadarkan kita, bahwa ada pelajaran politik yang sangat berharga dibalik keagungan Majapahit.

 

Biodata Diri

Nama                                : Arifah Masruroh Lestari

Tempat, Tanggal Lahir : Boyolali, 20 April 2001

Agama                              : Islam

Jenis Kelamin                 : Perempuan

Alamat Rumah               : Pusporenggo, Rt 01/Ii, Musuk, Boyolali.

Asal Sekolah                     : SMA Negeri 3 Boyolali

Alamat Sekolah              : Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulisen, Boyolali

Kelas                                 : XI MIPA 5

 

JUARA HARAPAN I LOMBA RESENSI BUKU SEJARAH TINGKAT KABUPATEN YANG DISELENGGARAKAN OLEH DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons