SUKARNO PARADOKS REVOLUSI INDONESIA

 

Judul                            : SUKARNO PARADOKS REVOLUSI INDONESIA

Penulis                         : Farid Gaban, R. Fajri, Seno Joko Suyono

Genre                           : Sejarah

Jumlah Halaman      : 104 Halaman

Penerbit                      : PT Gramedia

Cetakan                       : Cetakan pertama

Tahun Terbit               : 2010

A. SINOPSIS

Buku ini berisi tentang kehidupan Soekarno yang  pada saat permintaan terakhirnya agar dimakamkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak, dan Suharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, disebelah makam ibunya. Pada pemilihan umum 1999, Dia hadir sebagai juru kampanye “In Absentia” bagi Partai Demokrasi Indonesia perjuangan yang dipimpin putrinya, Megawati Soekarnoputri. “Sejarahlah yang akan membersihkan namaku!”. Sumpah itu jadi kenyataan, sejarah dan waktu kini berpihak padanya. Untuk pertama kalinya sejak tragedi berdarah 1965, yang sebagian dosanya dibebankan padanya, dia memperoleh kembali secara lebih proporsional kehormatan yang menjadi haknya.“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan gunung Semeru!Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!”

Mengenyam pendidikan sekolah menengah (HBS) di Surabaya, Sukarno tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Sukarno menyebut lingkungan rumah Tjokro sebagai “Dapur Revolusi Indonesia”. Debut politik pertama Soekarno adalah ikut mendirikan klub studi umum di Bandung pada 1926, sebuah klub diskusi yang berubah menjadi gerakan politik radikal belakangan. Romantisme Sukarno diperkuat oleh cerita-cerita pewayangan, epik Mahabarata dan Ramayana, yang dia kenal sejak kecil. Namanya sendiri dipetik dari dunia wayang. Dalam autobiografi yang dituturkan kepada Cindy Adams, dengan antusias Sukarno bercerita tentang asal muasal namanya. Dia terlahir sebagai Kusno, yang sakit-sakitan. Sesuai dengan kepercayaan Jawa, ayahnya harus memberinya nama baru untuk mengusir penyakitnya. Kusno menjadi Karno, saudara seribu pandawa seorang “Pejuang Bagi Negaranya” dan “Patriot yang Saleh”. Sukarno ditangkap tahun 1930. Namun, persidangannya menjadi pentas lain yang tak kalah dramatisnya. Dia tampil dengan pidato yang gemilang, “Indonesia Menggugat”, yang dibacakannya dua hari secara berturut-turut. Belanda menghukumnya secara keras, Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun, meski akhirnya diperingan menjadi satu tahun. Pada 5 Juli, Sukarno megeluarkan Dekrit Presiden yang terkenal. Dia mengubur tuntas “Setan Sistem Multipartai yang Menjerumuskan Kita ke Neraka” dengan meniadakan partai sama sekali.

Surat pendek yang menyertai kiriman uang dan beberapa botol parfum itu di kirim Sukarno dari tempat tahanannya di Wisma Yasa, Jakarta, kepada Heldy Djafar. Perjumpaan pertama mereka terjadi tatkala Heldy menjadi anggota Barisan Bhineka Tunggal Ika, yang menyambut kedatangan Tim Piala Thomas, pada 1964. Pertautan Sukarno dengan wanita berawal pada usia sangat belia. Ada satu persamaan yang “mempersatukan” istri Sukarno : wajah yang rupawan, foto-foto masa muda Inggit Garnasih memancarkan kecantikan yang sensual.

SURABAYA, 6 Juni 1901. Seorang orok lahir menatap dunia. Ia diberi nama Koesno Sosro Sukarno. Sang bapak, Raden Soekemi Sosrodiharjo, bahkan tak mampu memanggil dukun beranak. Persalinan berlangsung melalui tangan seorang kawan keluarga, seorang kakek tua. Ibu si bayi, Ida ayu Nyoman Rai, punya firasat baik. Suatu hari, 45 tahun kemudian, Belanda merencanakan serangan di Yogyakarta, ibu kota. Sukarno mengungsi ke pegunungan disekitar Madiun. Malam itu, 23 Januari 1947, di gubuk persembunyian mereka, guntur membelah angkasa. Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri, bayi itu lahir dalam keadaan prihatin. Namun,tak seperti Sukarno, “Putri Sang Malam” itu tak pernah di ramal ibu bapaknya menjadi pemimpin negri.

Kesalahan terbesar Bung Karno dalam politik mungkin ialah tidak sepenuhnya mempercayai prosedur demokrasi. Pertama, dengan dukungan militer, dia membubarkan konstituante yang sudah hampir merampungkan tugasnya menyusun konstitusi yang lebih komprehensif dan justru memberlakukan kembali UUD 1945; Tindakan kedua Bung Karno dalam pembalikan  demokratisasi ialah mengangkat anggota DPRGR dan MPRS tanpa melalui pemilihan umum. Meski mungkin tak banyak, warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan di Tanah Air kita menghasilkan beberapa teks yang bisa dianggap “klasik” dan bernilai abadi. Sukarno baru berumur 25 tahun ketika Nasionalisme,Islamisme,dan Marxisme diterbitkan. Tak banyak yang tahu bahwa Sukarno pernah menjadi sutradara teater. Kisah ini diceritakan Dr. Lambert Giebels, 75 tahun, dalam bukunya: Sukarno, 1901-1950. Di pembuangannya di Ende, Flores, Sukarno mengembangkan bakatnya menjadi sutradara teater. Ia membuat Perkumpulan Sandiwara Kelimutu. Anggotanya mencapai 50 orang, terdiri atas mandor sekolah, guru, penjahit, sopir, montir setempat, dan anak-anak dari Pulau Sawu. Mereka berlatih didalam rumah Sukarno atau dikebun bila tidak hujan. Ada 12 naskah drama yang dihasilkan di Ende. Naskah dokter setan ini adalah interpretasi Sukarno atas film Frankenstein yang saat itu tengah populer.

B. Unsur-unsur

Unsur ekstrinsik pada buku ini adalah “ kita harus menghargai perjuangan para pahalwan dan menghormatinya karena tanpa perjuangan mereka belum tentu kita bisa hidup dengan nyaman dan aman”

Unsur intrinsik

  1. Tema dari buku ini adalah kisan perjuangan keluarga Presiden Sukarno mulai dari beliau masih di kandungaan sampai meninggal dunia. Dan juga menceritakan kisah perjuangan menjalani kehidupan dari sangat memprihatinkan sampai dengan Sukarno menjadi seorang Presiden.
  2. Latar tempat pada buku ini antara lain di gubuk, di rumah haji Oemar Said Tjokroaminoto, di pinggiran pegunungan di daerah Madiun.
  3. Alur buku ini menggunakan alur maju mundur, karena pada bab pertama menjelaskan tentang permintaan Sukarno sebelum meninggal dan pada bab selanjutnya baru menjelaskan kisah tentang kelahiran Sukarno dan sejarah atau asal usul nama Sukarno.
  4. Penokohan pada buku ini adalah Sukarno berwatak tegas, bijaksana, mandiri, berani mengatasi masalah. Selain itu ada juga Muh. Hatta, Douwes Dekker, Megawati Soekarnoputri, Drs. Tjiptomangunkusumo, Cindy Adams, Ida Ayu Nyoman Rai, Raden Soekemi Sosrodiharjo, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hatari, Oetari Tjokroaminoto, Ratna Sari Dewi.
  5. Amanat
  6. Kita harus bersyukur atas apa yang telah kita miliki, karena bisa jadi suatu hari nanti kita bisa mendapatkan lebih dari yang kita punya saat ini.
  7. kita harus senantiasa menghargai pahlawan yang telah mati-matian mempertahankan negara ini.

C. Kelebihan :

Buku ini sangat inspiratif, dapat memberikan kita banyak informasi Mengenai sejarah kehidupan Sukarno. Tata letak kalimatnya juga rapi, dan mengalir dengan baik. Di dalam buku ini juga di tuliskan tanggal-tanggal penting Jejak Langkah Sang Fajar beserta penjelasan singkatnya  sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya. Penulis juga mencantumkan silsilah atau garis darah Sukarno tiga generasi.

 D. Kekurangan:

Kekurangan dalam buku ini adalah ada beberapa istilah yang tidak di jelaskan secara rinci oleh penulis, sehingga menyulitkan sebagian pembaca untuk memahami istilah tersebut. Pada beberapa paragraf, terdapat beberapa kesalahan tanda baca.

E. Kesimpulan

Dibalik kekurangan dari buku ini, harus diakui bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi kita, karena buku ini mengangkat beragam tema yang dapat kita jadikan inspirasi. Gaya penulisannya pun mudah untuk dipahami dan dapat membawa pembaca ke lingkungan cerita tersebut.

 

BIODATA DIRI

Nama                 : Ajeng Lintang Lutfi’ah

TTL                    : Boyolali, 8 September 2002

Kelas                  : X Bahasa

Asal Sekolah     : SMA NEGERI 1 NGEMPLAK

Alamat Sekolah: Jln. Raya Embarkasi Haji Km-1 Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah

Alamat Rumah : Gondangrejo,Rt : 05/01, Keyongan, Nogosari,Boyolali, Jawa Tengah

Email                  : ajenglintang08@yahoo.com

Pengalaman menulis :

  • Penulis Cerpen
  • Penulis Puisi
  • Penulis Artikel yang berjudul “ Ragam Kebudayaan di Indonesia”
  • Proses Penulisan  Novel

 

JUARA III LOMBA RESENSI BUKU SEJARAH TINGKAT KABUPATEN YANG DISELENGGARAKAN OLEH DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons