Warna Hidup Sang Panglima Besar Jendral Soedirman

 

Judul               : Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman

Penulis            : E. Rokajat Asura

Penerbit          :  Imania

Tahun Terbit  : Cetakan I, Februari 2015

Jumlah Hal.   : 270 halaman

ISBN                : 978-602-7926-21-9

Banyak cara untuk mengisi kemerdekaan, salah satu di antaranya adalah meneladani kiprah  dan upaya para pejuang yang dengan kesadaran tinggi telah memilih jalan berjuang daripada berpangku tangan. Dengan meneladani jejak pejuang, kita akan memperoleh semangat dan nilai-nilai luhur yang sangat berguna untuk mengarungi kehidupan.

Buku berjudul Kupilih Jalan Gerilya: Romah Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman karya E. Rokajat Asura adalah salah satu bentuk dan upaya untuk menghidupkan kiprah seorang pejuang, dalam hal ini adalah Panglima Besar Jendral Soedirman.

Secara umum, saya tidak mengenal siapa itu E. Rokajat Asura, penulis buku Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman, ini. Tetapi, setelah membaca karyanya ini, saya dapat menyimpulkan bahwa penulis bukan sekedar penulis biasa yang hanya pintar berkata, tetapi penulis merupakan seseorang yang tekun dan memiliki pemahaman yang luas terkait karya yang ia tulis. Meski sebuah roman, buku setebal 270 halaman ini ditulis dengan melakukan riset cukup. Bahkan, kekuatan dari sejarah yang dinovelkan akan menjadi lebih hidup. Di bagian pembuka sebelum karya-karyanya disusun, ia menceritakan pengalamannya disaat singgah di rumah Bapak Muhammad Teguh Soedirman, putra bungsu dari almahrum Panglima Besar Soedirman. Di sanalah awal penelusurannya tentang sosok Soedirman, di sanalah pula Bapak Teguh menceritakan segala hal sampai-sampai tak kuasa menahan air matanya.

Berbeda dengan buku sejarah lain yang akhirnya membosankan, Rokajat Asura dengan apik meracik kisah hidup sang Jendral menjadi satu buah buku penuh warna. Disini pembaca dapat membayangkan sesosok Jendral Soedirman bukan hanya seorang pahlawan yang pernah merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah saja. Kejenakaannya bersama sang adik, Samingan, maupun keromantisan sang Jendral dengan sang istri, Alfiah. Semua dikemas dengan baik sehingga pembaca pun tahu bahwa dibalik keteguhannya, seorang Panglima Besar juga memiliki kisah hidup yang menarik untuk diselami.

Jendral Soedirman sendiri lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916 dari pasangan suami istri Karsid Kartowirodji dan Siyem. Sejak masih bayi Sudriman sudah diadopsi oleh pamannya, Cokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) Bodas Karangjati. Masa kanak-kanak dan masa remajanya dihabiskan di Cilacap.

“Manis Wicarane bisa ngenaki pikir sesamaning wong, akeh rejekine,” begitulah ujar seorang sepuh setelah diberi tahu bayi itu lahir Senin Pon, 24 Januari 1916. Menurut perhitungan Jawa, bayi yang lahir 24 Januari 1916 atau 18 Maulud 1846 Je itu dinaungi Dewa Kamajaya yang dipercaya memiliki keteguhan hati, tidak gampang goyah, kukuh pendiriannya. Selain itu senang menghibur orang susah, senang berbuat baik dan selalu berusaha untuk menghindari perbuatan jahat (Halaman 26)

Soedirman kecil dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, pengajaran etika dan tata karma priyayi, serta etos kerya dan kesederhanaan wong cilik, atau rakyat jelata. Untuk Pendidikan agama, ia dan adiknya, Samingan, mempelajari islam di bawah bimbingan Kiai Haji Qahar.  Soedirman kecil begitu senang mendengar sang kiai mendongeng, terlebih tentang kisah Ashabul Kahfi yang begitu membuncahkan rasa penasaran Soedirman kala itu. Berada di bawah didikan sang kiai, Soedirman tumbuh menjadi anak yang taat beragama dan selalu shalat tepat waktu. Ia dipercaya untuk mengumandangkan adzan dan iqamat. Lalu saat berusia tujuh tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi (Holladsch Inlandsche School).

Soedirman kecil akhirnya beranjak dewasa, dia suka bermain tonil dan sepak bola, serta pintar bertutur lewat pidato. Dan juga,sama halnya dengan remaja-remaja lain, Soedirman juga pernah merasakan bagaimana rasanya saat asmara mekar di hatinya. “Buat perempuan itu mengagumi, Nang. Setelah itu kau tak perlu mendekati kalau benar-benar suka, sebab ia yang akan mendekatimu.” (Raden Cokrosunaryo, halaman 44). Kata-kata itu selalu diingat Soedirman. Awalnya ia tak menanggapi serius. Namun ketika perasaannya sudah bersemi indah, kata-kata itu menjadi senjata ampuh. Soedirman jatuh hati pada Alfiah, putri seorang saudagar batik dan pengurus Muhammadiyah.

Rokajat Asura benar-benar pintar merangkai kata. Saya langsung ikut merasakan betapa manis dan romantisnya pecintaan Jendral Sudriman dan istrinya, Alfiah, hanya dengan membaca tiap narasi-narasi yang penulis tulis. Bagaimana  keberanian Soedirman untuk mendekati Alfiah yang notabene gadis pujaan yang ditaksir orang banyak.

Perjalanan kedua insan itu tidak semulus cerita-cerita romantis di luar sana. Awalnya ayah Alfiah, Raden Sastroatmodjo tidak setuju hubungan itu, tapi kebaikan dan kecerdasan Soedirman telah meluluhkan hatinya. Soedirman itu teman diskusi yang baik, kader muda Muhammadiyah yang membanggakan buat ayah Alfiah. Namun itu belum cukup. Sekarang giliran paman Alfiah, Haji Mukmin yang tidak setuju saat tahu bahwa keponakannya itu juga ada rasa dengan Soedirman yang hanya dianggapnya sebagai lelaki kurus dan anak seorang pensiunan asisten wedana. Pamannya itu lebih senang mengelu-elukan anak pengusahan minuman yang lulus menjadi dokter. Namun pada akhirnya, setalah Soedirman diangkat menjadi Panglima TKR, saat itulah kehadirannya mulai diterima sang paman Haji Mukmin.

Lembar-lembar berikutnya, setelah Soedirman tak lagi bersekolah di HIS, konflik makin meradang. Bagaimana jatuh bangun sang Jendral memimpin pertempuran bahkan saat sebelah paru-parunya sudah dikempeskan lantaran mengidap TBC. Menyebrangi sungai, naik-turun gunung, kehujanan dan kepanasan dia tetap setia duduk di singgasananya. Sebuah tandu menjadi panglima perang. Dia lakukan gerilya hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk kemenangan dan kemerdekaan Indonsia.

Lalu pada akhirnya, Panglima Besar Jendral Soedirman tutup usia di Magelang, Januari 1950. Setelah memeriksa rapor putra-putrinya, sang Jendral lantas menitipkan anak-anaknya itu ke Alfiah, sang Ibu. Suasana begitu haru saat sang Panglima berkata kepada istrinya, “Tolong bimbing aku untuk menghadap Gusti Allah, Bu.” Lalu dengan mengucap tahlil, Soedirman pergi meninggalkan istri, anak-anak, dan pasukan yang pernah ia pimpin.

“Kau ingat-ingat… mungkin inilah amanat terakhirku. Bangunlah angkatan perang yang dapat menjadi kebanggaan dari rakyat Indonesia. Yang mampu melindungi kemerdekaan negara Indonesia dan dapat menjamin keamanan rakyat Indonesia,” (Soedirman, halaman 262)

Tiada gading yang tak retak. Begitulah kata peribahasa, karena tiada kesempurnaan kecuali yang dimiliki Sang Pencipta. Buku ini juga memiliki kekurangan.

Buku ini memakai banyak kata baru di dalamnya. Banyak istilah-istilah dari Bahasa jawa yang pastinya tidak semua orang akan mengerti artinya. Mungkin bagi orang jawa bukanlah hal sulit untuk memaknai, namun bagaimana dengan orang-orang luar jawa yang membacanya? Jelas, bahkan untuk mengartikannya saja sulit lantas bagaimana cara untuk memahami maknanya?  Terlebih tidak adanya footnote/catatan kaki. Bahkan, sejujurnya, saya sendiri juga belum dapat mengartikan setiap kata-kata sukar itu tanpa harus bolak-balik mencari artinya di internet maupun sumber lainnya. Bayangkan betapa repotnya para pembaca jika tiap kali membuka lembaran buku, menemukan kata-kata baru yang tampak asing, lalu harus susah payah mencari-cari sendiri makna dari kata-kata itu.

Terlepas dari sekelumit kekurangan yang ada, buku Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman karya E. Rokajat Asura ini sangat dianjurkan untuk dibaca. Dari sampul tebalnya yang bewarna kecoklatan saja sudah menggambarkan jelas betapa kokohnya sang Jendral, lalu pembaca akan penasaran dan mencuri-curi pandang kearah buku ini. Sebab pada akhirnya, efek yang diciptakan setelah membaca buku ini begitu mengena di hati pembaca.

Penulis berupaya untuk “mengidupkan” kembali sosok almahrum Jendral Soedirman. Dalam buku ini pembaca akan dimudahkan dalam memahami pikiran dan tindakan-tindakan sang Jendral. Saya sendiri merasa puas karena pertanyaan-pertanyaan yang dulu belum terkuak dan saya kubur dalam-dalam, kini kembali muncul ke permukaan dan mendapati sebuah jawaban. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa Jendral Soedirman memilih jalan gerilya daripada tetap tinggal di kota padahal kesehatannya semakin memburuk? Serta pertanyaan-pertanyaan lain.

Penulis memang pandai dalam merangkai kata dan pandai membawa pembaca untuk masuk ke dalam bayangannya. Namun, dalam buku ini penulis sengaja memilih alur maju-mundur dimana dari tahun ke tahunnya tidaklah berurutan. Di awal cerita, penulis membawa pembaca ke masa tahun 1948 dimana Jendral Soedirman siaga terhadap Belanda. Lalu tahunnya mundur ke masa 1992 dimana Soedirman kecil tengah asik-asiknya menyukai dongeng Ashabul Kahfi.  Lalu bagian-bagian berikutnya terus berpola seperti itu; maju dan mundur.

Cara penyampaianya memang unik. Pada awalnya akan terasa membingungkan, dan pasti ada pertanyaan yang terbesit seperti: kenapa ceritanya seperti ini? Namun itulah sisi unik yang dimiliki seorang E. Rokajat Asura. Ia dengan ciamik membuat  pembaca akan asyik membolak-balikan buku hanya demi mengetahui cerita sebelumnya. Hasil karyanya akan membuncahkan rasa penasaran pembaca sehingga tak mau berhenti untuk terus membaca. Sungguh, buku ini layaknya sebuah puzzle yang harus kita rangkai sendiri jalan ceritanya. Bahan saya sendiri sempat kaget saat menyadari bahwa setiap bagian dari buku ini tidak dibuat berurutan selayaknya karya-karya roman lain. Namun itulah nilai plus tersendiri bagi buku ini sehingga apabila menemukannya di toko buku, pasti tangan akan gatal untuk segera membawanya ke kasir.

Saya setuju dengan komentar K. H Agus Sunyoto bahwa buku ini begitu menarik. Pengungkapannya begitu cemerlang antara aktualita, faktualita, politik, sejarah, budaya, dan jiwa patriotik yang ditulis dengan bahasa naratif yang komunikatif dan mudah dicerna. Setiap cerita dalam buku ini pun layaknya sebuah kepingan puzzle yang dapat dibedakan, namun tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Menelisik dari isi cerita, buku ini cocok dibaca untuk semua remaja Indonesia. Sebuah buku rekomendasi untuk dibaca semua anak negeri. Buku ini perlu dimasukan ke dalam list bacaan yang harus dikhayati maknanya, maka dengan itu remaja-remaja sekarang dapat belajar dari sifat teguh, bijak, dan berprinsip yang dimiliki Panglima Besar Jendral Soedirman. Buku ini dapat menjadi ‘kompas’ yang berguna untuk mengarungi kehidupan sehari-hari agar tidak kehilangan arah dan orientasi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawnnya,” begitulah ucapan Ir. Soekarno yang harusnya diwujudkan oleh generasi-generasi penerus bangsa. Bila kita menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar, maka satu langkah yang jangan sampai dilupakan adalah menghargai para pahlawan bangsa. Bila kita selalu rindu kepada sosok almahrum Panglima Besar Jendral Soedirman, maka satu langkah yang jangan sampai dilewatkan adalah membaca novel ini.

 

Biodata Diri

Nama                                          : Rosa Lina Dwiastuti

Tempat, Tanggal Lahir        : Boyolali. 7 Oktober 2002

Agama                                        : Islam

Jenis Kelamin                         : Perempuan

Alamat Rumah                        : Winong, Bulusari, Boyolali

Asal Sekolah                            : SMA Negeri 3 Boyolali

Alamat Sekolah                      : Jl. Perintis Kemerdekaan, Pulisen, Boyolali

Kelas                                           : X MIPA 2

 

JUARA I LOMBA RESENSI BUKU SEJARAH TINGKAT KABUPATEN YANG DISELENGGARAKAN OLEH DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons